
Ditulis oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
Program Studi Gizi FPOK UPI
Bandung, 17 November 2025 — Setiap tanggal 19 November, dunia memperingati World Toilet Day, sebuah momentum untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya akses higienis terhadap toilet dan sanitasi. Akses yang buruk terhadap fasilitas sanitasi berdampak langsung pada kesehatan dan gizi anak, karena meningkatkan risiko infeksi diare, cacingan, dan penyakit menular lainnya yang mengganggu penyerapan nutrisi.
Menurut UNICEF dan WHO (2023), sekitar 673 juta orang di dunia masih buang air besar di sembarang tempat, dan anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terhadap dampak kesehatan akibat sanitasi buruk.
Hubungan Sanitasi dan Gizi Anak
Sanitasi yang buruk dan perilaku higienis yang rendah dapat menyebabkan penyakit infeksi usus, yang berdampak pada:
- Malabsorpsi nutrisi, sehingga anak kekurangan vitamin dan mineral penting.
- Pertumbuhan terhambat (stunting) akibat infeksi berulang.
- Gangguan daya tahan tubuh, membuat anak lebih rentan terhadap penyakit lain.
Penelitian menunjukkan bahwa perbaikan akses sanitasi dan praktik cuci tangan dengan sabun dapat menurunkan insiden diare hingga 30–40% pada anak-anak (Freeman et al., 2014). Hal ini secara langsung mendukung status gizi anak yang optimal.
Praktik Higiene dan Sanitasi yang Mendukung Gizi
Beberapa prinsip dasar yang dapat diterapkan masyarakat untuk mendukung kesehatan dan gizi anak antara lain:
- Akses toilet yang aman dan bersih
Pastikan setiap rumah memiliki toilet layak dan anak diajarkan menggunakannya dengan benar.
- Cuci tangan dengan sabun
Anak dan keluarga harus terbiasa mencuci tangan sebelum makan, sesudah buang air, dan setelah bermain di luar.
- Pengolahan makanan bersih
Cuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi, masak makanan hingga matang, dan simpan makanan di tempat bersih.
- Pengelolaan sampah yang baik
Buang sampah organik dan non-organik di tempatnya, sehingga mengurangi risiko kontaminasi lingkungan.
- Edukasi keluarga
Orang tua berperan penting dalam mengajarkan anak praktik higienis sejak dini.
Contoh Aplikatif untuk Masyarakat
Dalam rangka World Toilet Day, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah praktis:
- Kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan dan memastikan toilet umum di sekolah atau posyandu bersih.
- Workshop cuci tangan dan edukasi gizi bagi anak dan orang tua, menekankan hubungan antara kebersihan dan status gizi.
- Pemantauan sanitasi rumah oleh kader posyandu atau komunitas untuk memastikan praktik higienis diterapkan setiap hari.
- Membuat poster edukasi tentang cara cuci tangan yang benar dan pentingnya toilet bersih di lingkungan rumah dan sekolah.
Langkah-langkah ini tidak hanya mengurangi risiko penyakit menular, tetapi juga mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak yang optimal.
Kesimpulan
World Toilet Day mengingatkan masyarakat bahwa akses higienis dan sanitasi yang baik adalah fondasi kesehatan dan gizi anak. Program Studi Gizi berperan strategis dalam mengedukasi keluarga, sekolah, dan komunitas tentang praktik higienis yang sederhana namun berdampak besar terhadap status gizi anak. Dengan langkah nyata sehari-hari, kesehatan anak dan kualitas hidup generasi muda Indonesia dapat meningkat.
Referensi
Freeman, M. C., Stocks, M. E., Cumming, O., Jeandron, A., Higgins, J. P., Wolf, J., … & Curtis, V. (2014). Hygiene and health: Systematic review of handwashing practices worldwide and update of health outcomes. Tropical Medicine & International Health, 19(8), 906–916. https://doi.org/10.1111/tmi.12339
UNICEF & WHO. (2023). Progress on household drinking water, sanitation and hygiene 2000–2022: Special focus on inequalities. New York: UNICEF & Geneva: WHO. https://www.unicef.org/reports/progress-on-drinking-water-sanitation-and-hygiene-2023
World Health Organization. (2023). Sanitation and health. Geneva: WHO Press. https://www.who.int/publications/i/item/9789241565752
