
Penulis: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
11 Januari 2026 — Awal tahun menjadi momentum penting untuk memulai kembali kebiasaan hidup sehat. Salah satu upaya nasional yang terus didorong pemerintah adalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Melalui GERMAS, masyarakat diajak untuk melakukan perubahan perilaku sederhana namun berdampak besar, salah satunya melalui konsumsi pangan yang sehat dan aman.
GERMAS dan Tantangan Pola Konsumsi Masyarakat
Pola konsumsi masyarakat Indonesia saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti tingginya konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, rendahnya asupan sayur dan buah, serta meningkatnya konsumsi pangan ultra-proses. Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya risiko obesitas dan penyakit tidak menular (Kemenkes RI, 2022).
GERMAS hadir sebagai pendekatan promotif dan preventif untuk mendorong masyarakat lebih sadar memilih pangan yang bergizi, aman, dan seimbang sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Konsumsi Pangan Sehat dan Aman: Apa Maksudnya?
Konsumsi pangan sehat dan aman tidak hanya berbicara tentang kandungan gizi, tetapi juga keamanan pangan dari proses produksi hingga penyajian. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia, pangan yang sehat adalah pangan yang:
- Mengandung zat gizi sesuai kebutuhan tubuh
- Aman dari cemaran biologis, kimia, dan fisik
- Dikonsumsi dalam jumlah dan frekuensi yang tepat (WHO, 2020)
Pangan yang tidak aman dapat menyebabkan penyakit bawaan pangan (foodborne diseases) yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas masyarakat.
Perubahan Perilaku sebagai Kunci Keberhasilan GERMAS
Keberhasilan GERMAS sangat bergantung pada perubahan perilaku masyarakat, bukan sekadar pengetahuan. Penelitian menunjukkan bahwa edukasi gizi yang disertai pendekatan perilaku lebih efektif dalam membentuk kebiasaan makan sehat dibandingkan edukasi satu arah (Contento, 2016).
Beberapa perilaku konsumsi pangan sehat dan aman yang dapat diterapkan di awal tahun antara lain:
- Membiasakan Membaca Label Pangan
Memahami informasi nilai gizi, tanggal kedaluwarsa, dan komposisi bahan membantu konsumen membuat pilihan yang lebih sehat.
- Memperbanyak Konsumsi Pangan Segar dan Lokal
Sayur, buah, ikan, dan pangan lokal kaya zat gizi berperan penting dalam pemenuhan gizi seimbang (Schulze et al., 2018).
- Membatasi Gula, Garam, dan Lemak
Pembatasan GGL merupakan salah satu pesan utama GERMAS untuk mencegah penyakit tidak menular (Kemenkes RI, 2022).
- Menerapkan Perilaku Keamanan Pangan di Rumah
Seperti mencuci tangan sebelum mengolah makanan, menyimpan bahan pangan dengan benar, dan memastikan makanan matang sempurna.
GERMAS sebagai Investasi Kesehatan Jangka Panjang
Membangun kebiasaan konsumsi pangan sehat dan aman sejak awal tahun merupakan investasi jangka panjang bagi kesehatan individu dan masyarakat. Pola makan sehat yang konsisten terbukti menurunkan risiko penyakit tidak menular dan meningkatkan kualitas hidup (Schulze et al., 2018; WHO, 2020).
Dengan menjadikan GERMAS sebagai bagian dari rutinitas harian, masyarakat tidak hanya menjalankan resolusi awal tahun, tetapi juga berkontribusi pada terwujudnya generasi Indonesia yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.
Referensi
Contento, I. R. (2016). Nutrition education: Linking research, theory, and practice (3rd ed.). Jones & Bartlett Learning.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). GERMAS: Gerakan Masyarakat Hidup Sehat. Kemenkes RI.
Schulze, M. B., Martínez-González, M. A., Fung, T. T., Lichtenstein, A. H., & Forouhi, N. G. (2018). Food-based dietary patterns and chronic disease prevention. BMJ, 361, k2396. https://doi.org/10.1136/bmj.k2396
World Health Organization. (2020). Healthy diet. World Health Organization.
World Health Organization. (2019). Food safety. World Health Organization.
