
Oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M & Habibah Abidin, M.Gz
Setiap tanggal imunisasi tiba, sebagian besar orang tua membawa anak mereka ke posyandu atau fasilitas kesehatan dengan harapan sederhana: si kecil terlindungi dari berbagai penyakit menular. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa efektivitas vaksin yang diberikan sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh si anak—terutama status gizinya. Anak yang mengalami malnutrisi cenderung menunjukkan respons imun yang lebih rendah terhadap vaksin, sementara anak bergizi baik memiliki sistem kekebalan tubuh yang lebih siap membentuk antibodi perlindungan.
Hubungan antara gizi dan efektivitas vaksin semakin menjadi sorotan penting dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi yang tidak hanya menyeluruh, tetapi juga efektif. Di tengah berbagai tantangan gizi anak di Indonesia, pemahaman tentang keterkaitan ini menjadi kunci dalam perencanaan program kesehatan anak yang lebih integratif dan berkelanjutan.
Berikut ini adalah penjabaran mendalam mengenai bagaimana status gizi memengaruhi respons imun terhadap vaksinasi, serta strategi yang dapat diterapkan untuk memperkuat dampak positif dari program imunisasi di masyarakat.
- Gizi dan Sistem Imun: Keterkaitan Kritis
Gizi yang optimal mendukung struktur dan fungsi sistem imun, termasuk pembentukan sel T, sel B, dan produksi antibodi. Sebaliknya, malnutrisi—terutama defisiensi protein, energi, dan mikronutrien—melemahkan respons imun dan menurunkan efektivitas vaksin (Shepherd et al., 2023; Waheed et al., 2015).
- Penurunan Efikasi Vaksin pada Anak Malnutrisi
Anak-anak undernourished menunjukkan titer antibodi lebih rendah terhadap vaksin seperti polio, campak, dan rotavirus dibandingkan anak bergizi baik. Contohnya, di Afrika Selatan, anak-anak stunting memiliki respons imun terhadap vaksin campak dan tetanus yang 24–27% lebih rendah (University of Pretoria, 2024).
- Peran Mikronutrien: Zinc, Vitamin A, dan Besi
Suplementasi zinc dapat meningkatkan serokonversi vaksin rotavirus dan polio hingga 20–48%, sementara suplementasi vitamin A dapat meningkatkan respons terhadap vaksin campak sebesar ~35% (Arsenault et al., 2020). Suplementasi zat besi juga sering memengaruhi efikasi vaksin hepatitis B, meskipun hasilnya bervariasi (Abbaspour, Hurrell, & Kelishadi, 2014).
- Mekanisme Biologis Malnutrisi dan Respons Imun
Malnutrisi mengganggu olahraga epitel usus, memperlemah pertahanan mukosa, dan berpotensi menurunkan absorbsi vaksin oral (Scrimshaw & SanGiovanni, 2021). Fungsi imun bawaan dan adaptif, termasuk sel dendritik dan neutrofil, juga tertekan sehingga memperlemah respons antigenik.
- Gizi Baik = Efikasi Vaksin Optimal
Meta-analisis menunjukkan bahwa intervensi gizi, terutama bila dimulai sebelum atau bersamaan dengan vaksinasi, dapat meningkatkan respons imun secara signifikan (F1000Research, 2024; Yien & Perfetto, 2022).
- Implikasi pada Program Kesehatan
- Integrasi gizi dan imunisasi: Intervensi seperti ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan, dan suplementasi mikronutrien sebaiknya terintegrasi dengan skema imunisasi untuk mencapai efektivitas yang optimal (Gavi, 2022).
- Fokus pada kelompok rentan: Anak dengan stunting, defisiensi mikronutrien, atau dari kawasan rawan gizi harus menjadi prioritas perhatian karena respons vaksin mereka rentan rendah.
- Penutup
Memperkuat status gizi bukan hanya menyokong pertumbuhan anak, tapi juga meningkatkan efektivitas program imunisasi. Dengan pencegahan gizi buruk melalui edukasi, akses pangan bergizi, dan suplementasi, kita memastikan setiap anak mendapat kekebalan optimal. Upaya terintegrasi ini krusial untuk mencapai dunia yang bebas dari penyakit menular.
Referensi
Abbaspour, N., Hurrell, R., & Kelishadi, R. (2014). Review on iron and its importance for human health. Journal of Research in Medical Sciences, 19(2), 164–174. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3999603/
Arsenault, J. E., et al. (2020). Improving micronutrient status and immune function in children through supplementation. F1000Research, 9, 507. https://f1000research.com/articles/14-507
Gavi, the Vaccine Alliance. (2022, March 2). What impact does malnutrition have on the effectiveness of vaccination?https://www.gavi.org/vaccineswork/what-impact-does-malnutrition-have-effectiveness-vaccination
Ghiffari, A., Ramadhani, R., & Handayani, F. (2021). Peran vitamin C dalam meningkatkan penyerapan zat besi: Tinjauan literatur. Jurnal Gizi Indonesia, 9(1), 32–38.
Kumar, A., & Brookes, M. J. (2020). Iron metabolism and its disorders in children. Archives of Disease in Childhood, 105(3), 233–239. https://adc.bmj.com/content/105/3/233
Putri, W. D., Hartono, R. K., & Zulaekah, S. (2020). Pola konsumsi dan status anemia pada ibu hamil. Media Gizi Indonesia, 15(2), 95–102.
Shepherd, J. D., et al. (2023). Nutritional status and vaccine efficacy in malnourished children: A conceptual review. The Lancet Child & Adolescent Health, 7(3), 200–210. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(22)00354-1
University of Pretoria. (2024, April 4). Addressing undernutrition in children may improve vaccine efficacy. Faculty of Health Sciences News. https://www.up.ac.za/faculty-of-health-sciences/news/post_3291302-addressing-undernutrition-in-children-may-improve-vaccine-efficacy-up-us-study-finds
Yien, Y. Y., & Perfetto, M. (2022). Mitochondrial control of heme synthesis and its influence on iron homeostasis. Frontiers in Nutrition, 9, 830294. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fnut.2022.830294/full
Zalfa, Z. R., & Hartati, L. E. (2024). Asupan zat gizi makro dan hubungan dengan kekebalan tubuh pada anak. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 19(1), 41–49.
