
Ditulis oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
Program Studi Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat
Bandung, 8 November 2025 — Dalam beberapa tahun terakhir, dunia kesehatan semakin menyoroti peran penting mikrobiota usus (gut microbiota) terhadap sistem kekebalan tubuh manusia. Penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan mikroba dalam saluran pencernaan tidak hanya berpengaruh pada pencernaan dan penyerapan nutrisi, tetapi juga memiliki peran kunci dalam menjaga daya tahan tubuh terhadap infeksi dan penyakit kronis (Lynch & Pedersen, 2016).
Bagi mahasiswa dan akademisi di bidang ilmu gizi, memahami hubungan antara mikrobiota usus dan sistem imun merupakan peluang besar untuk mengembangkan pendekatan gizi berbasis sains yang lebih personal dan preventif.
Mikrobiota Usus dan Sistem Kekebalan Tubuh
Mikrobiota usus terdiri atas miliaran mikroorganisme — termasuk bakteri, jamur, dan virus — yang hidup di saluran pencernaan manusia. Komunitas mikroba ini berfungsi sebagai “garis pertahanan pertama” dalam sistem imun. Menurut penelitian Belkaid dan Hand (2014), sekitar 70% sel imun tubuh berada di jaringan usus. Mikrobiota yang seimbang membantu mengenali patogen, memproduksi senyawa antimikroba alami, dan menstimulasi produksi imunoglobulin A (IgA) yang penting untuk melawan infeksi.
Sebaliknya, gangguan keseimbangan mikroba atau disbiosis dapat meningkatkan risiko peradangan kronis dan penyakit autoimun seperti asma, diabetes tipe 1, atau sindrom iritasi usus (Rinninella et al., 2019).
Gaya Hidup dan Pola Makan yang Mempengaruhi Mikrobiota
Pola makan merupakan faktor dominan yang menentukan komposisi mikrobiota usus. Diet tinggi serat, sayuran, buah, dan makanan fermentasi mendukung pertumbuhan bakteri baik seperti Bifidobacterium dan Lactobacillus (Valdes et al., 2018). Sebaliknya, konsumsi berlebihan makanan ultra-proses, tinggi gula, dan lemak jenuh dapat menurunkan keberagaman mikroba sehat.
Konsumsi prebiotik (makanan yang memberi nutrisi bagi bakteri baik) dan probiotik (mikroba hidup yang memberikan manfaat kesehatan) dapat membantu menjaga keseimbangan mikrobiota. Studi oleh De Filippo et al. (2010) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengonsumsi lebih banyak serat nabati memiliki mikrobiota usus yang lebih beragam dan sistem imun yang lebih kuat dibandingkan dengan anak-anak yang mengonsumsi diet tinggi lemak dan protein hewani.
Implikasi untuk Program Studi Gizi
Bagi Program Studi Gizi, perkembangan riset mengenai mikrobiota membuka peluang besar dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
- Pendidikan: Kurikulum gizi dapat memperkuat materi tentang gut microbiome, interaksi gizi–imunitas, dan pendekatan nutrisi personal berbasis mikrobiota.
- Penelitian: Mahasiswa dapat mengembangkan topik penelitian seperti pengaruh diet tinggi serat terhadap keragaman mikrobiota usus, atau efektivitas makanan fermentasi lokal sebagai sumber probiotik alami.
- Pengabdian masyarakat: Edukasi gizi berbasis mikrobiota dapat diterapkan di masyarakat, misalnya kampanye konsumsi tempe, yogurt, dan sayur fermentasi lokal sebagai bagian dari strategi meningkatkan imunitas pasca-pandemi.
Selain itu, kolaborasi lintas bidang antara gizi, mikrobiologi, dan kedokteran dapat memperluas peran Program Studi Gizi dalam pembangunan kesehatan berbasis ilmu pengetahuan.
Contoh Aplikatif bagi Mahasiswa Gizi
Mahasiswa gizi dapat mulai menerapkan konsep mikrobiota dalam kehidupan sehari-hari, antara lain dengan:
- Menyusun menu tinggi serat alami, seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan setiap hari.
- Mengonsumsi makanan fermentasi lokal, seperti tempe, tape singkong, atau yogurt untuk menambah bakteri baik.
- Mengurangi makanan ultra-proses, tinggi gula, dan minuman berpemanis yang dapat merusak keseimbangan mikroba usus.
- Melakukan penelitian sederhana, misalnya survei konsumsi probiotik alami pada mahasiswa kampus sendiri.
Langkah-langkah kecil tersebut dapat memperkuat kesadaran akan pentingnya hubungan antara makanan, mikroba, dan kekebalan tubuh, serta menjadikan mahasiswa gizi sebagai agen perubahan di masyarakat.
Kesimpulan
Kesehatan usus adalah fondasi kesehatan imun tubuh. Dengan memahami peran mikrobiota usus, mahasiswa dan dosen di bidang gizi dapat mengembangkan inovasi berbasis ilmu yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat. Pendekatan gizi yang mempertimbangkan keseimbangan mikroba usus bukan sekadar tren, tetapi merupakan bagian dari masa depan ilmu gizi yang presisi dan berkelanjutan.
Referensi
Belkaid, Y., & Hand, T. W. (2014). Role of the microbiota in immunity and inflammation. Cell, 157(1), 121–141. https://doi.org/10.1016/j.cell.2014.03.011
De Filippo, C., Cavalieri, D., Di Paola, M., Ramazzotti, M., Poullet, J. B., Massart, S., Collini, S., Pieraccini, G., & Lionetti, P. (2010). Impact of diet in shaping gut microbiota revealed by a comparative study in children from Europe and rural Africa. Proceedings of the National Academy of Sciences, 107(33), 14691–14696. https://doi.org/10.1073/pnas.1005963107
Lynch, S. V., & Pedersen, O. (2016). The human intestinal microbiome in health and disease. The New England Journal of Medicine, 375(24), 2369–2379. https://doi.org/10.1056/NEJMra1600266
Rinninella, E., Raoul, P., Cintoni, M., Franceschi, F., Miggiano, G. A. D., Gasbarrini, A., & Mele, M. C. (2019). What is the healthy gut microbiota composition? A changing ecosystem across age, environment, diet, and diseases.Microorganisms, 7(1), 14. https://doi.org/10.3390/microorganisms7010014
Valdes, A. M., Walter, J., Segal, E., & Spector, T. D. (2018). Role of the gut microbiota in nutrition and health. BMJ, 361, k2179. https://doi.org/10.1136/bmj.k2179
World Health Organization. (2023). Healthy diet and physical activity for youth. Geneva: WHO Press.
