
Ditulis oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
Program Studi Gizi, Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan
Bandung, 4 November 2025 — Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed foods semakin meningkat di masyarakat modern, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Makanan ini meliputi minuman manis kemasan, snack siap saji, makanan cepat saji, dan produk olahan tinggi gula, garam, dan lemak trans. Studi menunjukkan bahwa konsumsi berlebihan makanan ultra-proses berhubungan dengan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan gangguan metabolik (Monteiro et al., 2019).
Peringatan ini relevan bagi mahasiswa gizi dan masyarakat umum, karena strategi pengurangan konsumsi makanan ultra-proses dapat meningkatkan kesehatan jangka panjang sekaligus mendorong pola makan lebih seimbang dan alami.
Dampak Kesehatan dari Makanan Ultra-Proses
Makanan ultra-proses cenderung tinggi energi tetapi rendah nutrisi, sehingga mudah menyebabkan konsumsi kalori berlebih. Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi makanan ultra-proses meningkatkan risiko:
- Obesitas dan penumpukan lemak visceral
- Resistensi insulin dan diabetes tipe 2
- Hipertensi dan kolesterol tinggi
- Gangguan mikrobiota usus yang berdampak pada imun dan metabolisme (Fardet & Rock, 2019)
Selain itu, bahan tambahan seperti pewarna, pemanis buatan, dan pengawet dapat memengaruhi kesehatan pencernaan dan sistem imun anak maupun dewasa.
Strategi Mengurangi Konsumsi Makanan Ultra-Proses
Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan masyarakat dan mahasiswa gizi:
- Perbanyak makanan segar dan alami
Pilih sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, dan sumber protein segar seperti ikan, telur, dan ayam tanpa olahan.
- Baca label dengan cermat
Hindari produk yang mengandung banyak aditif, pemanis buatan, dan pengawet.
- Siapkan camilan sehat sendiri
Buat snack dari kacang panggang, buah kering tanpa gula tambahan, atau yoghurt dengan topping buah.
- Kurangi frekuensi makan di luar
Makanan restoran cepat saji umumnya ultra-proses dan tinggi garam, gula, dan lemak trans.
- Terapkan pola makan seimbang
Gunakan prinsip piring sehat: setengah sayur dan buah, seperempat protein, seperempat karbohidrat kompleks, serta lemak sehat secukupnya.
Contoh Aplikatif bagi Mahasiswa dan Masyarakat
Beberapa contoh kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengurangi konsumsi makanan ultra-proses antara lain:
- Workshop memasak makanan sehat dari bahan segar untuk mahasiswa dan keluarga.
- Membuat catatan konsumsi makanan selama seminggu dan mengidentifikasi makanan ultra-proses yang sering dikonsumsi.
- Mengadakan kampanye edukasi gizi di komunitas dengan tema “Mengenal Ultra-Processed Foods dan Dampaknya bagi Kesehatan.”
- Challenge keluarga atau teman untuk mencoba satu minggu tanpa makanan ultra-proses, lalu membandingkan energi, mood, dan kesehatan pencernaan.
Langkah-langkah sederhana ini dapat menjadi kontribusi nyata bagi kesehatan jangka panjang, sekaligus membentuk kebiasaan makan yang lebih sadar dan bertanggung jawab.
Kesimpulan
Mengurangi konsumsi makanan ultra-proses adalah strategi penting untuk mencegah penyakit kronis dan menjaga kesehatan jangka panjang. Mahasiswa gizi dapat berperan sebagai agen edukasi di masyarakat dengan memberikan panduan praktis dan kreatif untuk menggantikan makanan ultra-proses dengan alternatif sehat, lezat, dan bergizi.
Referensi
Fardet, A., & Rock, E. (2019). Ultra-processed foods: Definitions, impact on health, and potential mechanisms. Advances in Nutrition, 10(6), 1030–1043. https://doi.org/10.1093/advances/nmz065
Monteiro, C. A., Cannon, G., Lawrence, M., Costa Louzada, M. L., & Pereira Machado, P. (2019). Ultra-processed foods, diet quality, and health using the NOVA classification system. FAO Food and Nutrition Paper, 126, 1–34. https://doi.org/10.4060/ca5644en
World Health Organization. (2023). Healthy diet. Geneva: WHO Press. https://www.who.int/publications/i/item/9789241565264
