
Oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M & Habibah Abidin, M.Gz
Setiap kali kita memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, bukan hanya kisah kelahiran beliau yang patut direnungi, tetapi juga gaya hidup sehat yang beliau contohkan. Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan akhlak mulia, tetapi juga memberi teladan dalam menjaga tubuh dan jiwa tetap sehat.
Momentum Maulid bisa menjadi ajakan untuk kembali ke pola hidup seimbang—mulai dari cara makan, memilih makanan, hingga menyeimbangkan antara kebutuhan jasmani dan spiritual. Bagaimana kita bisa meneladani Nabi dari sisi gizi dan kesehatan? Mari kita simak bersama.
Meneladani Gaya Hidup Sehat Rasulullah SAW
Rasulullah SAW dikenal sederhana dalam segala hal, termasuk dalam pola makan. Beliau tidak makan berlebihan dan selalu menganjurkan untuk makan hanya saat lapar dan berhenti sebelum kenyang. Prinsip ini ternyata sangat sesuai dengan ilmu gizi modern!
“Cukuplah bagi anak Adam beberapa suapan untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika harus lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.” (HR. Tirmidzi)
Contoh Praktis:
- Makan dengan porsi seimbang: ½ piring sayuran dan buah, ¼ karbohidrat, dan ¼ protein.
- Hindari kebiasaan makan berlebihan saat stres atau begadang.
- Fokus pada kualitas makanan, bukan sekadar kuantitas.
Tradisi Maulid, Rasa Budaya, dan Gizi
Perayaan Maulid di berbagai daerah di Indonesia selalu identik dengan hidangan khas seperti nasi tumpeng, nasi kebuli, opor ayam, kue apem, dan lainnya. Walau lezat dan penuh makna, makanan tersebut umumnya tinggi lemak, santan, dan gula.
Tapi jangan khawatir, kita tetap bisa menikmati hidangan Maulid dengan cara yang lebih sehat!
Contoh Praktis:
- Gunakan beras merah atau beras pecah kulit untuk nasi tumpeng.
- Ganti santan kental dengan santan encer atau susu rendah lemak.
- Tambahkan sayuran kukus, lalapan, dan buah segar sebagai pelengkap.
- Sajikan air putih atau infused water alih-alih minuman manis.
Dengan sedikit kreativitas, kita bisa menjaga tradisi sekaligus merawat kesehatan.
Gizi Spiritual: Sehat Fisik, Tenang Batin
Maulid bukan hanya soal makan bersama. Di balik perayaan, ada kekuatan spiritual yang menenangkan hati. Membaca kisah Nabi, bershalawat, dan berdzikir terbukti bisa meredakan stres, memperbaiki suasana hati, dan mendukung kesehatan mental.
Penelitian menunjukkan bahwa kegiatan spiritual seperti Maulid punya efek positif terhadap emosi, khususnya pada wanita Muslim yang menghayati acara dengan khusyuk (Seise, 2018; Katz, 2008).
Contoh Praktis:
- Adakan kegiatan kampus seperti “Kajian Gizi & Sunnah Rasul”.
- Buat jurnal syukur atau afirmasi positif untuk menjaga pikiran tetap tenang.
- Luangkan waktu dzikir atau doa sebagai bagian dari self-care harian.
Aktivitas Fisik Ala Rasulullah
Rasulullah SAW juga aktif secara fisik—beliau berjalan kaki, berkebun, bahkan terlibat langsung dalam pekerjaan rumah tangga. Ini menunjukkan pentingnya keseimbangan antara istirahat dan bergerak.
Contoh Praktis:
- Coba jalan kaki ke kampus atau naik tangga daripada lift.
- Ikuti senam kampus, yoga, atau aktivitas fisik ringan 30 menit setiap hari.
- Jaga pola tidur yang teratur untuk mendukung daya tahan tubuh dan konsentrasi.
Kesimpulan: Sehat ala Sunnah, Nikmat Dunia Akhirat
Maulid Nabi bisa jadi momentum untuk memperbaiki pola hidup—bukan hanya mengingat sejarah, tapi juga meneladani cara hidup Rasulullah SAW yang sangat relevan hingga hari ini.
Dengan makan secukupnya, memilih makanan sehat, menjaga aktivitas fisik, dan memperkuat spiritualitas, kita tidak hanya menyehatkan tubuh, tapi juga menyucikan hati.
“Sehat itu sunnah. Sunnah itu berkah.”
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2012, Februari 9). Rasulullah SAW ajarkan pola hidup sehat [Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Kantor Kemenkes RI]. Sehat Negeriku.
Merdeka.com. (2023). Deretan kuliner khas saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, sarat makna dan filosofi.
NU Online. (2023). 5 makanan khas perayaan Maulid Nabi dari berbagai daerah.
Seise, C. (2018). Women remembering the Prophet’s birthday: Maulid celebrations and religious emotions among the Alawiyyin community in Palembang, Indonesia. Austrian Journal of South-East Asian Studies, 11(2), 217–230.
Katz, M. H. (2008). Women’s Mawlid performances in Sanaa and the construction of popular Islam. International Journal of Middle East Studies, 40, 467–484.
