
Bandung, 11 Juli 2025 — Dalam rangka memperingati Hari Populasi Dunia yang jatuh pada tanggal 11 Juli, Program Studi Gizi mengangkat sorotan penting mengenai tantangan pemenuhan gizi ibu hamil di tengah laju pertumbuhan penduduk global dan nasional. Di tengah krisis pangan dan tekanan sumber daya alam, gizi ibu hamil menjadi isu strategis dalam menjaga kualitas generasi mendatang.
Menurut laporan United Nations Population Fund (UNFPA), populasi dunia telah mencapai lebih dari 8,1 miliar jiwa pada 2025. Kenaikan populasi ini berbanding lurus dengan peningkatan kebutuhan pangan, layanan kesehatan, dan kualitas gizi, terutama pada kelompok rentan seperti ibu hamil. Ketimpangan distribusi pangan, urbanisasi, dan dampak perubahan iklim menjadi faktor kompleks yang memperbesar tantangan tersebut.
“Ibu hamil merupakan kelompok prioritas yang harus mendapatkan perhatian khusus, terutama dalam hal akses terhadap pangan bergizi dan seimbang. Gagal memenuhi kebutuhan gizi selama kehamilan berdampak jangka panjang, mulai dari stunting, anemia, hingga rendahnya produktivitas generasi mendatang,” ujar Habibah Abidin, M.Gz, dosen Prodi Gizi sekaligus praktisi gizi masyarakat.
Kebutuhan energi dan zat gizi meningkat selama kehamilan. Ibu hamil memerlukan asupan tambahan zat besi, protein, asam folat, dan kalsium untuk menunjang pertumbuhan janin dan kesehatan ibu. Namun, dalam praktiknya, banyak ibu hamil masih menghadapi hambatan seperti keterbatasan ekonomi, rendahnya literasi gizi, serta ketersediaan pangan lokal yang berkualitas.
Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M, yang juga aktif di bidang Gizi Masyarakat dan Kependudukan, menambahkan bahwa pendekatan intersektoral sangat penting dalam menjawab tantangan ini. “Kita harus berpikir tidak hanya dari sisi intervensi gizi, tetapi juga memperkuat strategi pangan berkelanjutan yang dapat menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan keberagaman makanan bergizi, terutama di daerah dengan prevalensi malnutrisi tinggi.”
Strategi pangan berkelanjutan untuk ibu hamil dapat melibatkan pengembangan kebun pangan keluarga, pemanfaatan pangan lokal, edukasi gizi berbasis komunitas, hingga kebijakan pemerintah yang mendukung subsidi pangan sehat. Selain itu, kolaborasi antara sektor kesehatan, pertanian, dan pendidikan menjadi krusial untuk menciptakan sistem pangan yang lebih tangguh.
Data Riskesdas 2023 menunjukkan bahwa 24% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia, dan 17% kekurangan energi kronik. Angka ini menunjukkan pentingnya intervensi lintas sektor dan peningkatan akses terhadap edukasi gizi berbasis bukti di tingkat layanan primer.
“Kita sedang menghadapi tantangan gizi di tengah ledakan populasi. Namun ini juga peluang besar untuk memperkuat investasi pada gizi ibu hamil sebagai pondasi lahirnya generasi unggul dan sehat,” tutup Asti Dewi.
Peringatan Hari Populasi Dunia tahun ini menjadi momentum refleksi bahwa setiap kebijakan kependudukan harus mengintegrasikan aspek kesehatan ibu dan akses terhadap pangan bergizi. Gizi ibu hamil bukan hanya soal makanan, tetapi juga tentang keadilan sosial, ketahanan keluarga, dan masa depan bangsa.
Referensi:
- UNFPA. (2024). World Population Dashboard.
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Riskesdas Nasional 2023.
- FAO. (2022). The State of Food Security and Nutrition in the World
