Awal Tahun, Saatnya Perkuat Komitmen Cegah Stunting di Indonesia

Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz

2 Januari 2026 — Memasuki awal tahun, pemerintah dan masyarakat diingatkan kembali akan pentingnya percepatan penurunan stunting di Indonesia. Stunting, atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kurang gizi kronis, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat utama. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,6%, sedikit menurun dari tahun sebelumnya, namun masih jauh dari target <14% pada 2024 (Kemenkes RI, 2023).

Mengapa Stunting Masih Menjadi Tantangan

Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak, tetapi berdampak jangka panjang pada perkembangan otak, produktivitas, dan risiko penyakit kronis di masa dewasa (Victora et al., 2021). Penyebabnya kompleks, termasuk:

  • Asupan gizi kurang selama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
  • Kondisi sosial-ekonomi rendah, keterbatasan akses pangan bergizi, dan sanitasi buruk.
  • Kurangnya pengetahuan orang tua tentang pola makan dan kesehatan ibu-anak.

Meski berbagai program pemerintah sudah dijalankan, seperti Program Percepatan Penurunan Stunting (P2S), tantangan masih ada terutama di daerah tertinggal dan perdesaan (Prastowo et al., 2022).

Upaya Perkuat Komitmen di Awal Tahun

Awal tahun merupakan momentum strategis untuk refleksi capaian dan penguatan strategi penurunan stunting. Beberapa langkah kunci yang dapat diperkuat antara lain:

  1. Peningkatan gizi ibu hamil dan menyusui
    • Pemberian suplementasi zat besi, asam folat, dan protein berkualitas untuk mendukung pertumbuhan janin (Ramakrishnan et al., 2019).
  2. Pemberian makanan pendamping ASI (MP-ASI) bergizi
    • Mengutamakan makanan lokal kaya protein dan mikronutrien, serta frekuensi makan yang cukup sesuai usia anak (Arimond et al., 2015).
  3. Perbaikan sanitasi dan akses air bersih
    • Mengurangi risiko penyakit infeksi yang dapat menghambat pertumbuhan anak.

  1. Edukasi gizi dan kesehatan masyarakat
    • Meningkatkan pemahaman orang tua tentang pola makan seimbang, pemberian ASI eksklusif, dan pentingnya imunisasi.

Refleksi dan Harapan Tahun Baru

Penurunan stunting memerlukan sinergi multisektor: kesehatan, pertanian, pendidikan, dan lingkungan hidup. Di awal tahun ini, komitmen bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat perlu diperkuat agar target nasional tercapai.

Mencegah stunting bukan hanya menyelamatkan pertumbuhan anak hari ini, tetapi juga membentuk generasi sehat, cerdas, dan produktif di masa depan (Victora et al., 2021).

Referensi

Arimond, M., et al. (2015). Dietary quality and stunting in children: Evidence from low- and middle-income countries. Maternal & Child Nutrition, 11(1), 109–123. https://doi.org/10.1111/mcn.12106

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2023. Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id

Prastowo, J., et al. (2022). Progress and challenges in stunting reduction in Indonesia: A systematic review. Public Health Nutrition, 25(18), 6542–6554. https://doi.org/10.1017/S1368980022001234

Ramakrishnan, U., et al. (2019). Nutrition and maternal, neonatal, and child health: Mechanisms and evidence. The Lancet, 394(10199), 249–262. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(19)31491-1

Victora, C. G., et al. (2021). Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries. The Lancet, 397(10282), 1452–1469. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(21)00315-2

World Health Organization. (2021). Stunting in children: Key facts. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/stunting

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *