
Penulis: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
28 Januari 2026 — Isu kesehatan mental semakin mendapat perhatian global, seiring meningkatnya angka stres, kecemasan, dan depresi pascapandemi. Di tengah diskursus tersebut, dunia ilmiah mulai menyoroti peran mikronutrien, salah satunya biotin (vitamin B7), sebagai faktor pendukung kesehatan mental yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Biotin dikenal luas sebagai vitamin yang berperan dalam kesehatan rambut, kulit, dan kuku. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa biotin juga memiliki fungsi penting dalam metabolisme energi otak dan sistem saraf, yang berpotensi memengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Biotin dan Fungsi Sistem Saraf
Biotin merupakan kofaktor penting dalam berbagai enzim yang terlibat dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein. Proses ini sangat krusial bagi otak yang membutuhkan pasokan energi stabil untuk menjaga fungsi kognitif dan emosional (Zempleni et al., 2019).
Kekurangan biotin, meskipun jarang, dilaporkan dapat menimbulkan gejala neurologis seperti kelelahan ekstrem, gangguan konsentrasi, perubahan suasana hati, bahkan depresi (Said, 2020). Temuan ini memperkuat hipotesis bahwa kecukupan biotin berperan dalam menjaga kesehatan mental.
Temuan Ilmiah Terkini
Sejumlah studi observasional dan eksperimental menunjukkan adanya asosiasi antara status biotin dengan fungsi neurologis dan kesehatan mental, meskipun mekanismenya masih terus diteliti. Biotin diduga berkontribusi pada regulasi neurotransmiter dan fungsi mitokondria di sel saraf, yang berperan dalam pengaturan mood dan respons stres (Mock, 2017).
Para peneliti menegaskan bahwa biotin bukan terapi tunggal untuk gangguan mental, tetapi bagian dari pendekatan gizi menyeluruh yang mendukung kesehatan otak (Gómez-Pinilla, 2008).
Sumber Biotin dalam Pangan Sehari-hari
Biotin dapat diperoleh dari berbagai pangan yang mudah dijangkau, antara lain:
- Telur (terutama kuning telur matang)
- Kacang-kacangan dan biji-bijian
- Ikan
- Hati dan daging tanpa lemak
- Produk susu
- Sayuran seperti bayam dan brokoli
Pola makan seimbang umumnya sudah mencukupi kebutuhan biotin harian, sehingga suplementasi tidak selalu diperlukan, kecuali atas indikasi medis (NIH, 2023).
Implikasi bagi Edukasi Gizi dan Kesehatan Mental
Isu biotin dan kesehatan mental menegaskan pentingnya pendekatan interdisipliner antara gizi dan kesehatan jiwa. Edukasi gizi yang menekankan kecukupan mikronutrien dapat menjadi bagian dari strategi promotif dan preventif untuk mendukung kesehatan mental masyarakat.
Ahli gizi memiliki peran strategis dalam menyampaikan informasi berbasis bukti, sekaligus mencegah penyebaran klaim berlebihan terkait suplemen yang belum didukung bukti kuat.
Penutup
Meski penelitian tentang biotin dan kesehatan mental masih berkembang, temuan yang ada menunjukkan bahwa gizi yang adekuat merupakan fondasi penting bagi kesehatan otak dan mental. Di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental global, perhatian pada mikronutrien seperti biotin menjadi bagian dari upaya holistik menjaga kesejahteraan masyarakat.
Referensi
Gómez-Pinilla, F. (2008). Brain foods: The effects of nutrients on brain function. Nature Reviews Neuroscience, 9(7), 568–578. https://doi.org/10.1038/nrn2421
Mock, D. M. (2017). Biotin: From nutrition to therapeutics. The Journal of Nutrition, 147(8), 1487–1492. https://doi.org/10.3945/jn.116.238956
National Institutes of Health. (2023). Biotin: Fact sheet for health professionals. Office of Dietary Supplements.
Said, H. M. (2020). Biotin: Biochemical, physiological and clinical aspects. Subcellular Biochemistry, 94, 1–19. https://doi.org/10.1007/978-3-030-41769-7_1
Zempleni, J., et al. (2019). Biotin in metabolism and molecular biology. Annual Review of Nutrition, 39, 193–215. https://doi.org/10.1146/annurev-nutr-082018-124344
