Hari Susu Sedunia: Menjaga Keseimbangan Antara Manfaat Gizi dan Risiko Alergi

Oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz 

Bandung, 1 Juni 2025 – Hari Susu Sedunia yang diperingati setiap 1 Juni menjadi momen penting untuk mengingatkan masyarakat akan pentingnya susu dan produk olahannya dalam mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, bagi sebagian anak, konsumsi susu sapi dapat menimbulkan reaksi alergi yang perlu diwaspadai.

Manfaat Gizi Susu dan Produk Olahannya

Susu merupakan sumber utama kalsium, protein, dan vitamin D yang penting untuk pertumbuhan tulang dan gigi anak. Selain itu, produk olahan susu seperti keju dan yogurt juga mengandung probiotik yang baik untuk kesehatan saluran pencernaan. Konsumsi susu secara rutin dapat membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak dan mendukung aktivitas fisik mereka.

Menurut pedoman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), susu hewani merupakan sumber penting nutrisi bagi anak usia 6–23 bulan, karena mengandung protein berkualitas tinggi, kalsium, riboflavin, kalium, fosfor, magnesium, dan seng (World Health Organization, 2022).

Alergi Susu Sapi pada Anak

Namun, tidak semua anak dapat mengonsumsi susu sapi tanpa masalah. Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), alergi susu sapi merupakan reaksi imunologi terhadap protein susu sapi yang dapat memengaruhi saluran pencernaan, saluran napas, dan kulit anak. Gejalanya meliputi muntah, diare, batuk, ruam kulit, hingga reaksi yang lebih berat seperti syok anafilaksis.

Kondisi ini lebih sering terjadi pada bayi dan anak kecil, dengan prevalensi sekitar 5–7,5% pada bayi yang mendapat susu sapi. Namun, angka ini cenderung menurun seiring bertambahnya usia anak.

Sebuah penelitian dalam European Journal of Pediatrics mengungkapkan bahwa alergi susu sapi merupakan jenis alergi makanan paling umum pada bayi, dan penghindaran total terhadap protein susu sapi menjadi pendekatan utama dalam pengelolaannya (Koletzko et al., 2012).

Alternatif Susu untuk Anak dengan Alergi

Bagi anak yang mengalami alergi susu sapi, terdapat beberapa alternatif susu yang dapat dipertimbangkan, antara lain:

  • Susu formula terhidrolisa ekstensif, yang mengandung protein susu sapi yang telah dipecah menjadi peptida kecil sehingga lebih tidak reaktif secara imunologi (Koletzko et al., 2012).
  • Susu formula berbasis asam amino, ditujukan untuk anak dengan alergi berat, karena tidak mengandung struktur protein utuh dan sangat minim risiko reaksi alergi (Fiocchi et al., 2010).
  • Susu nabati, seperti susu kedelai, almond, atau oat. Namun, susu nabati tidak secara alami mengandung kadar kalsium dan vitamin D setinggi susu sapi, sehingga perlu diperkaya atau disertai konsumsi makanan sumber lain seperti ikan, sayuran hijau, atau paparan sinar matahari.

Pentingnya Konsultasi dengan Tenaga Medis

Sebelum mengganti susu sapi dengan alternatif lainnya, sangat penting bagi orang tua untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi. Hal ini memastikan anak tetap memperoleh asupan nutrisi yang seimbang sesuai kebutuhan pertumbuhan dan kesehatannya.

Kesimpulan

Susu dan produk olahannya memiliki peran penting dalam mendukung tumbuh kembang anak. Namun, perhatian terhadap kondisi alergi susu sapi juga harus menjadi bagian dari edukasi keluarga. Dengan pendekatan gizi yang tepat dan inklusif, anak-anak dapat tumbuh sehat meskipun memiliki keterbatasan konsumsi tertentu.

Referensi

  • Fiocchi, A., Brozek, J., Schünemann, H., Bahna, S. L., von Berg, A., Beyer, K., … & Rancé, F. (2010). World Allergy Organization (WAO) diagnosis and rationale for action against cow’s milk allergy (DRACMA) guidelines. World Allergy Organization Journal, 3(4), 57–161. https://doi.org/10.1097/WOX.0b013e3181defeb9
  • Koletzko, S., Niggemann, B., Arato, A., Dias, J. A., Heuschkel, R., Husby, S., … & Vandenplas, Y. (2012). Diagnostic approach and management of cow’s milk protein allergy in infants and children: ESPGHAN GI Committee practical guidelines. European Journal of Pediatrics, 171(8), 1345–1357. https://doi.org/10.1007/s00431-012-1870-5
  • World Health Organization. (2022). Animal source foods for the first 2 years of life. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK596423/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *