
Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M dan Habibah Abidin, M.Gz
Awal tahun kerap menjadi momen munculnya berbagai tren diet populer, terutama setelah periode liburan yang identik dengan peningkatan konsumsi makanan tinggi kalori. Media sosial dipenuhi dengan janji penurunan berat badan cepat melalui diet ekstrem, mulai dari diet tanpa karbohidrat, detoks jus, hingga intermittent fasting. Namun, pertanyaannya: apakah semua diet tersebut sesuai dengan prinsip ilmu gizi?
Diet Populer: Cepat Turun Berat Badan, Tapi…
Banyak diet populer menjanjikan hasil instan dalam waktu singkat. Secara ilmiah, penurunan berat badan yang terlalu cepat sering kali bukan disebabkan oleh berkurangnya lemak tubuh, melainkan kehilangan cairan dan massa otot (Mozaffarian, 2016). Kondisi ini justru berpotensi menimbulkan masalah kesehatan seperti kelelahan, gangguan metabolisme, hingga defisiensi zat gizi.
Penelitian menunjukkan bahwa diet yang terlalu membatasi satu kelompok zat gizi—misalnya karbohidrat atau lemak—tidak direkomendasikan untuk jangka panjang karena dapat mengganggu keseimbangan nutrisi (Schulze et al., 2018).
Mengulas Beberapa Tren Diet Awal Tahun
- Diet Rendah Karbohidrat Ekstrem
Diet ini menghilangkan hampir seluruh sumber karbohidrat. Padahal, karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, terutama otak. Pembatasan ekstrem dapat menyebabkan penurunan energi dan konsentrasi (Lichtenstein et al., 2021).
- Diet Detoks atau Juice Cleanse
Secara ilmiah, tubuh sudah memiliki sistem detoks alami melalui hati dan ginjal. Tidak ada bukti kuat bahwa diet detoks berbasis jus mampu membersihkan racun tubuh secara efektif (WHO, 2020). Diet ini justru berisiko rendah protein dan serat.
- Intermittent Fasting (IF)
IF dapat memberikan manfaat bila diterapkan dengan pola makan seimbang. Namun, tanpa pengaturan kualitas makanan, IF tidak otomatis menjamin kesehatan (Fry & Anderson, 2025). Banyak orang tetap mengonsumsi makanan tinggi gula dan lemak saat periode makan.
Prinsip Ilmu Gizi: Apa yang Seharusnya Jadi Acuan?
Ilmu gizi menekankan bahwa pola makan sehat harus:
- Beragam (tidak menghilangkan kelompok makanan tertentu)
- Cukup dan seimbang sesuai kebutuhan individu
- Berkelanjutan dan mudah diterapkan dalam jangka panjang
Pola makan berbasis makanan utuh seperti buah, sayur, biji-bijian, protein berkualitas, dan lemak sehat terbukti paling konsisten dalam menjaga kesehatan dan mencegah penyakit tidak menular (Schulze et al., 2018; Fry & Anderson, 2025).
Contoh Aplikatif: Diet Sehat Pasca Liburan
Daripada mengikuti diet ekstrem, berikut pendekatan yang lebih aman dan ilmiah:
- Atur porsi makan, bukan menghilangkan makan
- Perbanyak sayur dan buah di setiap waktu makan
- Batasi gula, garam, dan lemak jenuh
- Tetap aktif secara fisik minimal 30 menit per hari
Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi WHO dan pedoman diet sehat global (WHO, 2020; Lichtenstein et al., 2021).
Diet Sehat Bukan Tren, Tapi Gaya Hidup
Para ahli sepakat bahwa diet terbaik bukan yang paling populer, tetapi yang paling sesuai dengan prinsip ilmu gizi dan kondisi individu. Perubahan pola makan yang bertahap dan konsisten jauh lebih efektif dibanding diet instan yang berisiko (Mozaffarian, 2016).
Awal tahun seharusnya menjadi momentum untuk membangun kebiasaan makan sehat jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka timbangan. Dengan memahami dasar ilmu gizi, masyarakat dapat lebih bijak dalam memilih tren diet dan menjaga kesehatan secara berkelanjutan.
Referensi
Fry, J. L., & Anderson, K. R. (2025). Association between nutrition, diet quality, dietary patterns, and human health and diseases. Nutrients, 17(1), 3. https://doi.org/10.3390/nu17010003
Lichtenstein, A. H., et al. (2021). 2021 dietary guidance to improve cardiovascular health. Circulation, 144(23), e472–e487. https://doi.org/10.1161/CIR.0000000000001031
Mozaffarian, D. (2016). Dietary and policy priorities for cardiovascular disease, diabetes, and obesity. Circulation, 133(2), 187–225. https://doi.org/10.1161/CIRCULATIONAHA.115.018585
Schulze, M. B., Martínez-González, M. A., Fung, T. T., Lichtenstein, A. H., & Forouhi, N. G. (2018). Food-based dietary patterns and chronic disease prevention. BMJ, 361, k2396. https://doi.org/10.1136/bmj.k2396
World Health Organization. (2020). Healthy diet. WHO.
