
Oleh: Tim Redaksi Prodi Gizi
Narasumber: Hurry Mega Insani, S.Pd., M.Si & Delita Septia Rosdiana, S.Pd., M.Si
Bandung, 5 Juli 2025 — Masa remaja adalah periode krusial dalam kehidupan manusia. Fase ini tidak hanya menandai pertumbuhan fisik dan psikis yang pesat, tetapi juga menjadi dasar bagi pembentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Namun, banyak remaja saat ini masih menghadapi tantangan gizi yang serius seperti anemia, kekurangan energi, konsumsi makanan tinggi gula, garam, dan lemak, serta pola makan tidak teratur.
Menanggapi hal ini, tim redaksi Prodi Gizi mewawancarai dua akademisi sekaligus pendidik, Hurry Mega Insani, S.Pd., M.Si, dan Delita Septia Rosdiana, S.Pd., M.Si, yang menyoroti pentingnya edukasi gizi sejak dini untuk membentuk remaja yang cerdas, produktif, dan sehat secara menyeluruh.
“Gizi yang tidak seimbang dapat berdampak pada konsentrasi belajar, emosi yang tidak stabil, dan menurunnya daya tahan tubuh remaja. Kita tidak bisa bicara produktivitas tanpa membicarakan gizi,” jelas Hurry Mega Insani.
Menurutnya, literasi gizi harus menjadi bagian dari kurikulum formal maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah. Edukasi ini harus disampaikan dalam bahasa yang sederhana, visual yang menarik, dan pendekatan kontekstual sesuai dengan realitas kehidupan remaja.
Delita Septia Rosdiana menambahkan bahwa pemahaman tentang gizi tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. “Remaja hari ini hidup dalam era digital dan cepat, sehingga mereka rentan terhadap pola makan instan, promosi makanan tidak sehat, dan kebiasaan sedentari. Di sinilah pentingnya edukasi yang relevan dan menyentuh kehidupan sehari-hari mereka,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa membangun generasi produktif tidak cukup dengan menanamkan keterampilan kognitif semata, tetapi juga perlu dukungan gizi yang cukup dan seimbang, seperti asupan zat besi, protein, vitamin A, dan kalsium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak.
Berdasarkan data Riskesdas 2023, sekitar 32% remaja perempuan usia 15–24 tahun mengalami anemia. Kondisi ini berisiko menurunkan prestasi akademik dan produktivitas, serta berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi saat mereka dewasa.
“Remaja yang sadar gizi hari ini adalah calon ibu dan ayah yang akan melahirkan generasi selanjutnya. Jadi ini bukan hanya soal tubuh mereka hari ini, tetapi tentang masa depan keluarga dan bangsa,” tutup Hurry.
Sebagai solusi, keduanya mendorong kolaborasi antara sekolah, tenaga kesehatan, orang tua, dan komunitas untuk mengintegrasikan edukasi gizi ke dalam kehidupan remaja. Konten kreatif, media sosial, lomba masak sehat, serta pelatihan peer educator menjadi beberapa metode efektif untuk membangun kebiasaan makan sehat.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. (2023). Riskesdas Nasional 2023.
- WHO. (2022). Nutrition in Adolescence: Issues and Challenges.
- UNICEF Indonesia. (2024). Youth and Nutrition Brief.
