Oleh: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih, M.K.M
Habibah Abdidin, M.Gz
Setiap tanggal 1 Mei, dunia memperingati Hari Buruh Internasional sebagai momen refleksi atas kondisi dan kesejahteraan para pekerja. Di Indonesia, isu kesehatan gizi buruh menjadi sorotan penting, mengingat tingginya tuntutan fisik dalam pekerjaan mereka yang seringkali tidak sebanding dengan akses terhadap makanan bergizi.
Tuntutan Fisik yang Tinggi
Buruh di sektor manufaktur dan perkebunan menghadapi beban kerja fisik yang berat. Studi oleh Ilyas et al. (2021) menunjukkan bahwa hanya sekitar 10% pekerja manufaktur di Indonesia yang memiliki asupan nutrisi sesuai dengan rekomendasi, dengan mayoritas mengalami kekurangan protein, karbohidrat, dan lemak. Kondisi ini berdampak pada kapasitas fisik mereka, yang diukur melalui tes berjalan enam menit, menunjukkan bahwa sekitar 75,8% pekerja memiliki kapasitas fisik yang cukup untuk beban kerja mereka .
Keterbatasan Akses terhadap Makanan Bergizi
Keterbatasan akses terhadap makanan bergizi menjadi tantangan utama. Menurut data Kompas (2022), sekitar 68% penduduk Indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi harian yang seimbang, dengan biaya rata-rata Rp22.126 per hari untuk makanan bergizi . Hal ini diperparah oleh rendahnya literasi gizi di masyarakat, di mana banyak yang mengira telah mengonsumsi makanan bergizi padahal belum memenuhi angka kecukupan gizi yang disarankan
Dampak Kesehatan: Anemia dan Obesitas
Kondisi gizi yang buruk berdampak langsung pada kesehatan buruh. Penelitian oleh Saptawati Bardosono dan Ermita Ilyas (2014) menunjukkan bahwa pekerja di lingkungan panas lebih rentan mengalami dehidrasi, sementara pekerja di lingkungan sejuk cenderung memiliki kadar lemak tubuh dan viseral yang lebih tinggi . Selain itu, studi oleh Mentari Batu Bara et al. (2023) menemukan bahwa status gizi yang tidak normal berhubungan signifikan dengan penurunan produktivitas kerja di sektor produksi
Upaya Intervensi dan Solusi
Beberapa upaya telah dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Program intervensi berbasis tempat kerja, seperti edukasi gizi dan perbaikan layanan kantin pabrik, telah terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan asupan makanan kaya zat besi di kalangan pekerja perempuan . Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam mengatasi faktor-faktor sosial dan ekonomi yang mempengaruhi akses dan pilihan makanan pekerja
Kesimpulan
Kesehatan gizi buruh merupakan isu kompleks yang memerlukan pendekatan holistik. Diperlukan sinergi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat untuk memastikan bahwa para pekerja mendapatkan akses yang memadai terhadap makanan bergizi, sejalan dengan tuntutan fisik pekerjaan mereka. Hanya dengan demikian, kesejahteraan dan produktivitas buruh dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
Referensi:
- Ilyas, M., et al. (2021). Relationship Between Nutrition Intake and the Fitness of Manufacturing Workers in Indonesia. The Indonesian Journal of Public Health. https://doi.org/10.20473/ijph.v16i1SP.2021.23-33Journal of Universitas Airlangga+1Universitas Indonesia+1
- IDEAS. (2023). Low Access to Nutritious Food. https://ideas.or.id/2023/01/04/policy-brief-low-access-to-nutritious-food/ideas.or.id
- Bardosono, S., & Ilyas, E. (2014). Health, nutrition and hydration status of Indonesian workers: a preliminary study in two different environmental settings. Medical Journal of Indonesia. https://doi.org/10.13181/mji.v23i2.993Medical Journal of Indonesia
- Mentari Batu Bara, I., et al. (2023). The Relationship between Nutritional Status and the Productivity of Production Workers. Indonesian Journal of Global Health Research. https://doi.org/10.37287/ijghr.v6i3.3421Global Health Science Journal
- NCBI. (2019). Improving Workplace-Based Intervention in Indonesia to Prevent and Control Anemia. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6589957/
