
Penulis: Asti Dewi Rahayu Fitrianingsih M.K.M
Habibah Abidin, M.Gz
Bandung, 21 Februari 2025 – Setiap tahun, 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah (Food Waste) untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah, khususnya sampah makanan. Pemborosan makanan menjadi masalah serius yang tidak hanya berdampak buruk bagi lingkungan tetapi juga berkontribusi pada masalah kelaparan global. Oleh karena itu, peringatan ini mengajak setiap individu untuk lebih peduli terhadap cara mereka mengonsumsi dan mengelola makanan sehari-hari.
Pentingnya Menjaga Makanan dari Pemborosan
Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO) yang dilansir dalam laporan The State of Food Security and Nutrition in the World 2021, sekitar sepertiga dari total makanan yang diproduksi di dunia terbuang percuma setiap tahunnya. Di Indonesia, pemborosan makanan juga menjadi masalah besar. Berdasarkan riset yang dipublikasikan dalam Jurnal Lingkungan dan Pembangunan (2020), Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat pemborosan makanan yang tinggi, dengan hampir 13 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya.
Masalah ini tidak hanya berkontribusi pada pemborosan sumber daya alam, tetapi juga memperburuk masalah sampah yang terus meningkat. Makanan yang terbuang akan mengendap di tempat pembuangan akhir (TPA) dan menghasilkan gas metana, yang berperan besar dalam pemanasan global. Oleh karena itu, Hari Peduli Sampah (Food Waste) menjadi momentum penting untuk memulai perubahan dalam mengelola sampah makanan, baik di rumah tangga, restoran, maupun di sektor industri.
Dampak Lingkungan dari Pemborosan Makanan
Makanan yang terbuang memiliki dampak lingkungan yang sangat besar. Dalam bukunya “The Waste-Free World”(2021), penulis dan aktivis lingkungan, Jay P. Ricks, menjelaskan bahwa sampah makanan tidak hanya membuang sumber daya alam seperti air, energi, dan tanah yang digunakan untuk memproduksi makanan, tetapi juga meningkatkan emisi gas rumah kaca yang memperburuk perubahan iklim. Makanan yang dibuang di TPA menghasilkan metana, gas yang memiliki potensi 25 kali lebih besar dalam memerangkap panas dibandingkan dengan karbon dioksida.
Untuk itu, mengurangi pemborosan makanan menjadi langkah penting dalam upaya menyelamatkan planet ini. Program pengurangan sampah makanan tidak hanya membantu mengurangi limbah tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan dan mendukung ketahanan pangan global.
Langkah-langkah Mengurangi Food Waste
Mengurangi pemborosan makanan dimulai dari perubahan kebiasaan individu hingga skala yang lebih besar. Menurut Jurnal Pangan dan Lingkungan (2019), beberapa cara efektif untuk mengurangi sampah makanan di rumah tangga antara lain:
- Perencanaan Belanja yang Matang – Membuat daftar belanja yang sesuai dengan kebutuhan dapat mengurangi pembelian makanan berlebihan yang akhirnya tidak dikonsumsi.
- Penyimpanan Makanan dengan Tepat – Menyimpan makanan dengan cara yang benar dapat memperpanjang umur simpan makanan dan mencegah kerusakan.
- Mengolah Sisa Makanan – Mengolah sisa makanan menjadi menu baru atau memberi makan kepada orang lain adalah langkah penting untuk mengurangi limbah.
- Memanfaatkan Teknologi – Beberapa aplikasi dan platform kini memungkinkan masyarakat untuk berbagi makanan berlebih dengan orang yang membutuhkan, sehingga mengurangi pemborosan dan ketidakadilan sosial.
Di tingkat industri, restoran dan supermarket juga dapat mengambil langkah-langkah preventif, seperti menawarkan porsi lebih kecil bagi pelanggan atau menggunakan bahan makanan yang tidak terjual untuk disumbangkan.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Publik
Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah makanan juga harus terus dilakukan. Menurut buku “Zero Waste Home: The Ultimate Guide to Simplifying Your Life” oleh Bea Johnson (2013), pendekatan yang berfokus pada kesadaran akan pentingnya pengurangan sampah makanan sangat penting untuk perubahan jangka panjang. Kampanye dan program pemerintah juga dapat membantu meningkatkan kesadaran dan mendorong masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam mengelola makanan.
Referensi:
- Food and Agriculture Organization (FAO). (2021). The State of Food Security and Nutrition in the World.
- Ricks, J.P. (2021). The Waste-Free World: How the Circular Economy Will Take Less, Make More, and Save the Planet.
- Jurnal Lingkungan dan Pembangunan. (2020). “Pemborosan Makanan di Indonesia: Dampak dan Solusinya”.
- Jurnal Pangan dan Lingkungan. (2019). “Strategi Pengurangan Sampah Makanan di Rumah Tangga”.
- Johnson, B. (2013). Zero Waste Home: The Ultimate Guide to Simplifying Your Life.
